ANEKA ANALISIS

Rabu, 13 Maret 2013

TEMUAN STRATEGIS HASIL SDKI 2012 PROVINSI BENGKULU

BEBERAPA-TEMUAN-STRATEGIS-HASIL-SDKI-2012-PROVINSI-BENGKULU-seo
  1. Hasil SDKI Tahun 2012 Total Fertility Rate sebesar 2,20 sedangkan hasil SDKI Tahun 2007 sebesar 2,30 terjadi penurunan fertilitas sebesar 0,10, namun penurunan TFR  tersebut tidak diimbangi dengan penurunan unmet need. Angka Unmet need justru meningkat dari 6,1 menjadi 9,1 persen dan kelahiran pada kelompok umur 15-19 tahun meningkat dari 48 menjadi 51 per 1000 wanita  umur 15-19 tahun. Meningkatnya angka unmet need tersebut menunjukkan  angka kelangsungan pemakaian kontrasepsi rendah dan PUS yang ingin ber KB sulit menjangkau akses kesarana pelayanan kontrasepsi karena faktor geografis maupun harga / jasa pelayanan KB.
  2. Hasil SDKI Tahun 2012 CPR 64,2 sedangkan hasil SDKI Tahun 2007 sebesar 74 terjadi  penurunan peserta KB sebesar 9,8.
  3. Dari kedua data tersebut memperlihatkan bahwa hasil SDKI Tahun 2012 dibanding dengan hasil SDKI Tahun 2007 Provinsi Bengkulu untuk TFR sudah berhasil menurunkan rata-rata kemampuan seorang wanita untuk melahirkan dari 2,30 menjadi 2,20 yang artinya bahwa Program KB sudah mampu menekan tingkat fertilitas  . Penyebab turunnya CPR Provinsi Bengkulu diduga disebabkan oleh :
  • Masih tingginya angka kemiskinan yaitu 17,8 persen  (BPS), kemiskinan disebabkan oleh pengangguran, rendahnya pendidikan dan sempitnya lapangan kerja,  hal ini akan berdampak pada kemampuan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan alat kontrasepsi.
  • Pemakaian kontrasepsi didominasi Pil dan Suntik ( 43 %), kontrasepsi tersebut tingkat kelangsungannya rendah terutama untuk  akseptor didaerah Galcitas. dibanding kontrasepsi MKJP

 
3.    Pengetahuan tentang alat/cara kontrasepsi KB



4.    Unmet need ( Kebutuhan Pelayanan KB yang tidak terpenuhi )

Dari data tersebut terlihat bahwa hasil SDKI 2012 perserta yang ingin ber-KB dengan alasan  menjarangkan sebesar 73,3 dan yang tak terpenuhi 9,1 persen
Rekomendasi :
  1. Mendekatkan pelayanan KB ke sasaran Galcitas melalui pelayanan mobile (MUYAN) secara berkelanjutan. Muyan Provinsi memberikan dukungan pada Kabupaten   yang belum ada MUYAN
  2. Meningkatkan akses jangkauan pelayanan  pada masyarakat Pra S dan KS 1
  3. Perlu disusun peta Kabupaten dengan angka unmet need tinggi dan angka kemiskinan tinggi
  4. Menghidupkan kembali Tim Bakohumas ( Kemenag, Dishubkiominfo,Dinkes,, Dikas)  termasuk meningkatkan peran akseptor MOP menjadi Motivator KB Pria  dari wilayah setempat
  5. ASFR 15 – 19 kelahiran pada kelompok umur wanita 15 – 19 tahun meningkat dari hasil SDKI 2007 sebesar 48 sedangkan hasil SDKI 2012 sebesar 51    
  1. Penyebaran informasi tentang kesehatan reproduksi remaja selain melalui PIK Remaja, Risma, Karang Taruna juga kelompok remaja rentan dibawah bimbingan Institusi terkait   (Pemda, Bidan Desa, LSM).
  2. Meningkatkan perilaku kesehatan reproduksi pada remaja perdesaan melalui kegiatan ekonomi produksi/kesempatan kerja.
  3. Meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja pada keluarga yang mempunyai anak remaja melalui revitalisasi kelompok Bina Keluarga Remaja dan PIK Remaja.
  4. Menguatkan lembaga-lembaga swadaya masyarakat baik tingkat RT, Desa/Kelurahan dan institusi lainnya tentang arti penting kesehatan reproduksi remaja dan penangananya.
  5. Integrasi pendidikan kesehatan reproduksi kedalam kurikulum sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar